Ketidakmampuan atau Ketidakmauan dalam Membangun Hilirisasi Mineral Ikutan Timah Babel

Screenshot_2025-10-13-00-08-00-992_com.miui.videoplayer-edit

 

Istilah hilirisasi sudah lama menjadi jargon pembangunan, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun ketika berbicara tentang mineral ikutan timah—seperti zirkon, monasit, ilmenit, dan logam tanah jarang—semuanya masih sebatas wacana tanpa langkah nyata. Padahal, nilai ekonominya jauh melampaui timah itu sendiri. Pertanyaannya kemudian muncul: apakah kita memang tidak mampu, atau sebenarnya tidak mau?

Dalam setiap ton pasir sisa tambang timah di Babel, tersimpan mineral ikutan yang sangat dibutuhkan industri modern. Logam tanah jarang, misalnya, merupakan bahan penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik, ponsel pintar, dan berbagai teknologi strategis masa depan. Negara seperti Tiongkok dan Amerika Serikat berebut untuk menguasai rantai pasokan mineral ini. Ironisnya, di tanah kita sendiri, mineral bernilai tinggi itu masih dianggap sebagai limbah tambang yang tidak menarik untuk diolah.

Selama ini, kebijakan yang muncul lebih banyak berhenti pada tataran administratif. Pemerintah sibuk mengatur perizinan dan wilayah tambang, sementara arah industrinya tidak kunjung jelas. Padahal, lembaga seperti BATAN (sekarang BRIN) sudah lama meneliti potensi logam tanah jarang di Bangka Belitung. Sayangnya, hasil riset itu tidak banyak dimanfaatkan, tidak dihubungkan dengan kebijakan, dan tidak diintegrasikan ke dalam strategi industri daerah. Akibatnya, kita terus kehilangan peluang membangun nilai tambah di rumah sendiri.

Jika disebut tidak mampu, rasanya kurang tepat. Banyak putra daerah yang memiliki kemampuan dan pengetahuan di bidang ini. Beberapa bahkan sudah menyiapkan langkah untuk mengolah mineral ikutan secara mandiri. Artinya, kemampuan ada, hanya saja ruang dan dukungannya belum dibuka lebar. Tetapi jika disebut tidak mau, mungkin itu lebih dekat dengan kenyataan. Ada kecenderungan untuk tetap nyaman dengan pola lama: ekspor bahan mentah yang cepat menghasilkan, tanpa mau bersusah payah membangun sistem industri yang berkelanjutan. Hilirisasi seharusnya menjadi strategi jangka panjang untuk kemandirian ekonomi, bukan sekadar wacana yang diulang setiap tahun.

Untuk mewujudkan hilirisasi, kita butuh kepemimpinan yang berani dan visioner. Pemimpin yang mampu mempertemukan tiga kekuatan utama: pemilik bahan baku, pemilik modal, dan pemilik ilmu. Tanpa sinergi ketiganya, Babel hanya akan menjadi penonton dalam permainan besar sumber daya alamnya sendiri. Pembangunan hilirisasi memang tidak mudah, tetapi bukan mustahil. Ia hanya butuh kemauan, konsistensi, dan langkah awal yang nyata.

Jika kita terus menunda, Bangka Belitung akan kehilangan momentum dan hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah industri mineral dunia. Kita tidak sedang kekurangan potensi, tetapi kekurangan niat. Pada akhirnya, persoalan terbesar kita bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum benar-benar mau.

Penulis Muhamad Affan