SEJAK DULU NEGERIKU KAYA ?
oleh Muhamad A
Timah di Bangka Belitung bukanlah cerita baru. Ia telah digali sejak zaman kerajaan kuno, ketika jalur perdagangan Nusantara masih diwarnai perahu layar dan pusat-pusat kekuasaan di pesisir saling berebut pengaruh. Sejak masa itu, tanah Babel sudah memberikan kekayaan kepada banyak pihak—para penguasa, pedagang asing, dan kemudian perusahaan-perusahaan modern. Namun ironi terbesarnya tetap sama: rakyat yang tinggal di atas tanah kaya itu justru tidak pernah sepenuhnya menikmati hasilnya.
Selama puluhan tahun terakhir, Babel menjadi pemasok setia mineral mentah bagi industri nasional dan global. Namun masyarakat daerah ini belum merasakan manfaat sepadan dari tanah yang terus terkuras. Aspirasi masyarakat jelas: kekayaan alam jangan lagi hanya digali, tetapi harus dikelola di sini, diolah di sini, dan menghidupi rakyat di sini. Inilah makna hilirisasi yang sesungguhnya—hilirisasi yang berpihak pada rakyat, bukan sekadar pada angka-angka laporan ekonomi.
Keinginan masyarakat Babel sederhana sekaligus visioner: industri hilir timah dan mineral ikutan mesti dibangun di provinsi ini. Selama smelter, pabrik solder, baterai, bahan baku panel surya, hingga industri teknologi lainnya tetap berada di luar daerah, nilai tambah akan terus pergi meninggalkan Bangka Belitung. Yang kembali ke masyarakat justru kerusakan lingkungan, ketimpangan kesejahteraan, dan peluang ekonomi yang hilang. Bila pemerintah pusat benar-benar mendengar denyut aspirasi daerah, maka industri hilir tidak boleh lagi menjadi wacana tanpa arah.
Selain hilirisasi, Babel juga memiliki peluang energi masa depan yang jarang dibicarakan: Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT). Mineral ikutan yang selama ini terbuang sebenarnya menyimpan potensi besar sebagai bahan bakar energi bersih yang stabil, murah, dan strategis. Jika ditata dengan tata kelola yang ketat dan berlandaskan keamanan, PLTT dapat menjadi sumber daya unggulan yang memperkuat industri lokal dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Energi kuat akan melahirkan industri yang kuat—dan Babel memiliki bahan dasarnya.
Harapan masyarakat sesungguhnya tidak rumit: kekayaan alam yang telah digali sejak zaman kerajaan seharusnya kembali kepada rakyat, bukan hanya menjadi keuntungan bagi yang jauh dari tanah ini. Masyarakat ingin melihat nilai tambah hadir dalam bentuk lapangan kerja, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan. Saatnya pemerintah pusat menempatkan Babel sebagai subjek pembangunan, bukan hanya lumbung bahan mentah. Karena negeri ini hanya akan kuat apabila daerah yang kaya diberi ruang untuk berdiri tegak di atas kekuatan sendiri.
” Dirgahayu negeriku yg ke 25.”
Babel bersatu babel jaya
